top of page

Mengapa Aroma Makanan Bisa Membuat Kita Lapar?

14 jam yang lalu
3 menit membaca
Aroma daging dan sayur yang sedang ditumis dan menggugah selera

Pernahkah kamu mencium aroma sate yang sedang dibakar di pinggir jalan, lalu tiba-tiba merasa lapar? Atau saat berjalan di mall dan melewati bakery yang sedang memanggang roti, muncul keinginan untuk mencobanya? Menariknya, aroma makanan dapat membangkitkan selera makan bahkan sebelum kita melihat atau mencicipinya. Mengapa aroma bisa memberikan pengaruh sebesar itu terhadap keinginan kita untuk makan?


Apa yang Membentuk Sebuah Flavor?


Sering kali kita menganggap bahwa flavor atau rasa makanan dan minuman hanya berkaitan dengan apa yang dirasakan oleh lidah kita saat mengonsumsinya. Padahal, flavor merupakan persepsi yang terbentuk dari kombinasi beberapa aspek, terutama rasa (taste), aroma, dan sensasi di dalam mulut (mouthfeel).


Taste dikenali melalui indra pengecap pada lidah, yang mampu merasakan lima rasa dasar, yaitu manis, asin, asam, pahit, dan umami. Sementara itu, aroma dikenali melalui indra penciuman dan dapat menghadirkan berbagai karakter, seperti smoky, fruity, hingga spicy.

Aroma dapat dipersepsikan melalui dua jalur, yaitu orthonasal dan retronasal. Orthonasal terjadi ketika kita menghirup aroma dari lingkungan melalui hidung, misalnya saat mencium aroma sate yang sedang dibakar. Sementara itu, retronasal terjadi ketika senyawa aroma dari makanan yang berada di dalam mulut bergerak menuju rongga hidung melalui bagian belakang tenggorokan saat kita mengunyah dan bernapas. Ketika mengonsumsi makanan atau minuman, persepsi taste dan aroma berpadu dengan mouthfeel untuk membentuk flavor secara keseluruhan. Kombinasi inilah yang membuat pengalaman menikmati makanan menjadi lebih kompleks daripada sekadar merasakan rasa di lidah.



 28.7%


Peningkatan skor selera makan setelah terpapar aroma makanan dibandingkan dengan tanpa paparan aroma.

Sumber: Proserpio et al. (2019), Frontiers in Psychology.



Aroma di Balik Karakter Flavor


Setiap metode memasak dapat menghasilkan karakter aroma yang berbeda. Proses memanggang, menggoreng, dan menumis melibatkan pemanasan yang dapat memicu terbentuknya berbagai senyawa aroma, sehingga turut membentuk karakter khas suatu makanan. Salah satu contohnya adalah Maillard reaction, yaitu reaksi antara gula pereduksi dan senyawa amino yang terjadi selama pemanasan. Reaksi ini berkontribusi pada terbentuknya warna kecokelatan serta aroma roasted yang khas, seperti pada daging panggang dan roti yang baru keluar dari oven.


Pada flavor BBQ, misalnya, karakter smoky dan roasted membantu menghadirkan kesan khas makanan panggang. Rendang memiliki profil aroma yang kompleks dari perpaduan rempah dan bahan-bahan yang dimasak bersama. Sementara itu, pada truffle, karakter earthy yang khas menjadi salah satu elemen penting dalam mengenali profil aromanya.


Karakter aroma yang beragam ini juga menjadi pertimbangan penting dalam pengembangan produk pangan. Setiap flavor membutuhkan komposisi aroma yang sesuai agar dapat menghadirkan profil yang diinginkan. Aroma yang terlalu dominan dapat membuat keseluruhan flavor terasa kurang seimbang. Sebaliknya, aroma yang kurang menonjol dapat membuat karakter tertentu sulit dikenali. Karena itu, keseimbangan karakter aroma dan kesesuaiannya dengan aplikasi produk menjadi bagian penting dalam proses pengembangan flavor.


Eksplorasi Seasoning Oil dalam Inovasi Aroma Produk Makanan


Dalam pengembangan produk pangan, menghadirkan flavor yang menarik tidak hanya bergantung pada karakter rasa yang ingin ditonjolkan, tetapi juga bagaimana setiap komponennya dapat saling melengkapi. Selain seasoning powder yang berperan dalam membangun karakter rasa, penggunaan seasoning oil dapat menjadi salah satu pendekatan untuk memperkaya dan memperkuat profil flavor secara keseluruhan.


Seasoning oil mengandung komponen flavor yang dapat berkontribusi terhadap karakter rasa dan aroma tertentu, bergantung pada jenis flavor, komposisi, serta aplikasinya. Ketika dikombinasikan dengan seasoning powder, keduanya dapat saling melengkapi untuk menghasilkan profil flavor yang lebih kompleks dan berkarakter.


Sebagai contoh, dalam pengembangan flavor BBQ, seasoning powder dapat membantu membangun karakter savory, sementara seasoning oil dapat melengkapi profil tersebut dengan karakter roasted dan smoky. Kombinasi yang tepat dapat membantu menghadirkan karakter BBQ yang lebih menyeluruh dan bold.


Melalui rangkaian NP II Tastescape Oil, kami menghadirkan seasoning oil dengan beragam profil yang kompleks dan terinspirasi dari berbagai karakter kuliner. NP II Oil dapat dikombinasikan dengan seasoning powder untuk membantu meningkatkan intensitas dan memperkaya karakter flavor sesuai dengan konsep produk yang ingin dikembangkan. Aplikasinya yang fleksibel juga memungkinkan NP II Oil dieksplorasi untuk berbagai kebutuhan, mulai dari formulasi seasoning powder, oil seasoning untuk mi instan, hingga aplikasi HoReCa seperti saus, sup, dan berbagai menu makanan lainnya.


Untuk mengeksplorasi berbagai karakter flavor, NP II Oil hadir dalam beragam pilihan profil yang dapat disesuaikan dengan konsep dan kebutuhan pengembangan produk.


Eksplor Varian NP II Oil:


JAPANESE CURRY NP II OIL
More Info
TOM YUM NP II OIL
More Info
TRUFFLE NP II OIL
More Info
CHARCOAL NP II OIL
More Info

Menciptakan pengalaman snacking yang berkesan membutuhkan lebih dari sekadar rasa yang enak. Perpaduan karakter rasa dan aroma yang tepat dapat menghadirkan profil flavor yang lebih lengkap dan menarik. Melalui eksplorasi bahan, teknologi, dan inovasi formulasi, NP terus berkomitmen untuk menjadi partner dalam membantu customer kami mengembangkan produk dengan karakter flavor terbaik.


Postingan Terakhir

Lihat Semua

Komentar


Mengomentari postingan ini tidak tersedia lagi. Hubungi pemilik situs untuk info selengkapnya.
bottom of page